Langsung ke konten utama

Lelap

Hujan seakan telah lelah menjatuhkan tubuhnya ke tanah, petir mungkin malu karena aku telah mengumpatnya habis-habisan. Namun, mataku tetap terjaga. Mau apalagi? Jiwaku rasanya sudah sangat lelah namun aku namun mataku tak ingin mengalah. Aku memutuskan untuk kembali menyampah disini. Sudah tidurkah kamu?

Malam sudah menunjukkan taringnya, dingin menyelisik kedalam kulitku yang tak terbalut selimut. Sunyi menjadi sesuatu yang tak tertandingi. Tak peduli seberapa kencang aku menyetel volume laptopku. Senyap selalu menemukan jalannya untuk menyiksa jiwa lelahku.

Kali ini, lagunya A Rocket To The Moon yang berjudul Like We Used To sengaja kumainkan supaya menenangkan satu sisi didalam hatiku yang begitu hampa. Tapi... tetap saja. Hampa tak mau melepaskan aku dari pelukannya. Padahal sudah berulang kali aku berusaha untuk melepaskannya dan mencoba untuk merasakan luka agar aku merasa hidup kembali. For God sake, I just can't feel anything anymore. Rasanya, hatiku telah membiru dan tak ingin berdenyut kembali. Sebaik apapun orang memperlakukanku dan seburuk apapun orang mengkhianatiku aku selalu menemukan diriku merasa sama. Aku yang bersalah. Ya. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah aku lakukan. Untuk apa? Supaya aku tak perlu merasa disakiti. Disakiti bagiku adalah hal yang sudah sangat lumrah. Itulah mengapa aku terkadang berharap untuk menjadi kucing saja.

Apa yang aku rasakan selama beberapa bulan ini hanyalah perasaan kalah dari sesuatu yang tak pernah aku merasa mainkan. Entah. Aku selalu merasa aku telah menajdi pecundang dalam suatu pertandingan yang entah sejak kapan aku mainkan.

Argh! here we go again. Kepala ku rasanya sangat sakit dan aku tak mampu melakukan apapun untuk menghilangkannya. Aku bahkan tidak merasa obat akan menghilangkan rasa sakitnya dari kepalaku. Kepalaku rasanya mau pecah.

Masih terjagakah kamu? Bolehkah aku meminta waktumu untuk menemaniku? Bisakah kamu mengirimiku sebuah tanda?

Komentar

  1. Hei, i always waiting for your post. Enak baca nya, sering sering post.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bilamana

Pada suatu malam yang kudus, aku melepas penatku dipelukmu. Peluh membanjir, kita berenang dalam kesunyian. Bibir kita gemetar, meliuk saling merengut tak ingin lepas. Sementara mata kita kunci untuk tetap terpejam. Agar? Nafas liar kita semakin memburu! Kupekerjakan kamu, supaya badanku tetap hangat. Kubiarkan kamu melenguh dan menikmati. Tapi tak kubiarkan kamu melayang. Kujaga tetap pada aturannya. Biar kudapati tanya di wajahmu. Aku senang bikin kamu bingung. Langit dimalam itu mendung, bekas hujan tadi sore masih menyelinap di jendela. Memberi kamar kita yang sepetak kedinginan yang luar biasa. Itulah mengapa aku rapatkan badanku padamu. Dan itulah alasan kamu menjadi lebih liar daripada biasa. Kita diatas, kita dibawah. Saling mencumbu, saling tersenyum. Lucu. Saat kulihat wajahmu yang penuh peluh tetap bersikukuh untuk menyerang. Kubiarkan kamu berbuat sesuka. Ini malam kita. Malam yang mungkin tak dapat kita temui lagi. Semakin cepat kau bergerak semakin keras lenguhanku. G...

CodeName

Hur många gånger måste jag berätta för dig? Om det inte är med mitt kodnamn. Då är historien inte rätt. Jag låter dig veta det hela tiden. Det är därför jag använder mitt kodnamn, kanske förstår du det. Du vet historien bakom namnet. Du frågar mig vad skulle jag ha? Jag vill inte ha någonting. Det gör bara ont för att veta det faktum. Att jag inte visste vad du ville ha. Vad du vet. Som om du inte ville ha mig, men du fortsätter att dra mig. Jag vet att vi inte kunde vara tillsammans. Eftersom detta bara är ensidigt. Men vad vill du ha? Jag saknar dig. Jag gör verkligen. - SeRa

Pernikahan

Marriage. Aku kadang ngeri mendengar kata ini. Bagiku pernikahan bukanlah suatu tujuan. Karena, dalam pikiranku, pernikahan adalah sesuatu yang tidak sesakral itu. Kenapa? Mungkin karena aku ada didalam sesuatu yang mereka sebut perceraian. Didalam artiku, pernikahan yang se-kramat itu bisa hancur hanya karena pihak lain yang mungkin dirasa lebih menggoda. Jadi, untuk apa menikah jika kita tetap menganut pada prinsip "jodoh siapa yang tahu"? Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti kenapa teman-teman ku bersikeras ingin menikah muda. Pasalnya, untuk menikah, buatku, bukan hanya perkara menghalalkan pacaran. Bukan hanya menghalalkan "ena-ena". Bukan hanya menghalalkan kontak fisik yang selama ini mereka damba. Lebih dari itu, sesiap apa kamu untuk mengurus orang lain yang katanya kamu sayangi? Salut, pada mereka yang memutuskan untuk menikah muda. Berani sekali. Di usia yang bisa dibilang belum matang berpikir dan pengalaman berkomunikasi yang pastinya sedikit leb...